Konsumsi susu di Indonesia menempati urutan terendah se- Asia, yakni 9 liter per kapita per tahun. Peringatan Hari Susu Sedunia mengajak masyarakat menyadari manfaat susu bagi semua kalangan usia.Susu merupakan “makanan” pertama bagi setiap bayi yang terlahir ke dunia. Kita semua mengawali hidup dengan minum susu. Namun, ketika masa balita berlalu, banyak orangtua yang mengesampingkan kebiasaan minum susu, bahkan menyetop sama sekali konsumsi minuman menyehatkan itu.
Data dari Depkes RI menyebutkan, dalam kurun waktu 30 tahun (1970-2000), tingkat konsumsi susu segar di Indonesia naik dari 4, 68 liter menjadi 6,5 liter per kapita per tahun. Namun, masih sangat rendah dibanding Malaysia yang mencapai 20 liter per kapita per tahun.
Data internal Tetra Pak Indonesia 2007 juga menyebutkan konsumsi susu di Indonesia berkisar 9,0 liter per kapita per tahun. Angka tersebut merupakan yang terendah dibanding Malaysia (25,4 liter per kapita per tahun) dan Vietnam (10,7 liter per kapita per tahun).
Sementara itu, Frisian Flag Indonesia (FFI), mengungkapkan bahwa 80 persen susu dikonsumsi oleh anak Indonesia hanya sampai usia 10 tahun saja, yang jumlahnya hanya 20 persen dari total populasi.
“Kondisi ini sangat berbeda dengan di negara lain, di mana susu dikonsumsi oleh orang dari semua kalangan usia. Tak dimungkiri, daya beli konsumen yang rendah masih menjadi kendala,” ujar Presdir FFI, Cees HM Ruygrok. Untuk itulah, Hari Susu Sedunia yang diperingati kemarin (1 Juni) mengambil tema “Susu Alami untuk Semua”. Tujuannya mengampanyekan pada masyarakat bahwa kandungan gizi dalam susu sangat bermanfaat tak hanya bagi bayi dan anak-anak, tapi juga remaja, dewasa, hingga lansia.
Staf Ahli Mentri Bidang Mediko Legal Depkes RI,Dr Rachmi Untoro MPH, mengemukakan, sangat penting bagi seorang anak mengonsumsi susu sejak dini. Air susu ibu (ASI) sebaiknya diberikan hingga bayi minimal berusia 6 bulan, dan dapat diteruskan bersama makananpendamping ASI (MPASI) hingga anak berumur 2 tahun. Dengan kata lain, jarak ideal kelahiran adalah 3-6 tahun.
“Setelah usia 2 tahun,anak dapat terus diberikan susu 3-4 gelas per hari di samping makanan bergizi lainnya. Pemberian susu juga jangan berlebihan, misalkan 10 gelas per hari, itu bisa merusak pertumbuhan gigi-geligi anak,” ungkapnya.
Orang dewasa dan lansia pun tetap dianjurkan minum susu 2 gelas per hari, pagi dan malam, untuk mencegah keropos tulang. Seimbangkan juga dengan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari. Susu juga mengandung zat mineral penting seperti zinc untuk pertumbuhan, meningkatkan daya tahan tubuh, dan mempercepat penyembuhan luka. Jika ibu hamil kekurangan zat-zat ini, janin berpotensi lahir dengan kondisi sumbing.
“Kebutuhannya mungkin sedikit, tapi sangat menentukan kualitas sumber daya manusia yang dilahirkan kelak,” tegasnya.
Mulai dari Hal Kecil
Sedikit kilas balik, sebagai imbas krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1998, harga-harga membumbung tinggi. Harga susu bahkan melonjak lebih dari 200 persen.
Kala itu, tim riset konsumen FFI sempat melakukan focus group discussion secara independen dengan beberapa konsumen. Sambil menitikkan air mata, seorang konsumen berujar, ia tak mampu lagi membeli susu sehingga menggantikan susu yang biasa diminum anaknya dengan teh manis.
Meningkatkan daya beli dan pendapatan memang tak semudah membalik telapak tangan. Untuk itu, setiap keluarga disarankan memulai dari hal kecil. “Misalkan, seorang kepala rumah tangga yang merokok secara sadar mulai mengurangi konsumsi rokok sebatang per hari, sehingga penghematan ini bisa dianggarkan untuk membeli susu,” kata Market Research Manager FFI, Winawati Wiroreno.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar